jenis persembahan diberikan kepada manfaat
Persembahanmakanan adalah salah satu ritual tertua Buddhisme, sekaligus yang paling umum. Makanan diberikan kepada para biksu pada waktu pindapata, juga dipersembahkan pada dewa-dewa pelindung Tantra dan hantu kelaparan. Pemberian makanan adalah tindakan mulia yang mengingatkan kita agar tidak tamak atau egois. Persembahan Pindapata kepada Biksu
Berdanamenghasilkan manfaat di dalam kehidupan sekarang dan dalam kehidupan-kehidupan yang akan datang, tak peduli apakah kita sadar akan kenyataan ini atau tidak. Terutama jika persembahan dana diberikan kepada rohaniwan, orang seharusnya melakukannya dengan rasa hormat dan menghargai, bergembira dalam kesempatan yang diperolehnya untuk
Terdapattiga jenis persembahan di agama Kristen, yang akan dibahas di sini. Setidaknya, ada tiga persembahan di agama Kristen. Ketiga persembahan ini diberikan sebagai ungkapan rasa syukur umat
PerhatikanKeluaran 12: 11 "maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN
Isilah tabel berikut ini dengan jenis persembahan,diberikan pada dan manfaat nya - 32574195 BAEZUZY BAEZUZY 11.09.2020 Matematika Sekolah Menengah Atas JENIS PERSEMBAHAN:UANG . DIBERIKAN KEPADA: ORANG MISKIN. MANFAAT:UNTUK MENCUKUPI KEBUTUHAN SEHARI HARI. 3) JENIS PERSEMBAHAN: MAINAN .
Meilleur Site De Rencontre Jeune Gratuit. Ada begitu banyak warga jemaat yang menanyakan tentang Persembahan yang benar itu yang bagaimana? Mengapa di GKJW tidak ditekankan persembahan persepuluhan? Pada satu sisi pertanyaan-pertanyaan ini menyenangkan, karena tersirat adanya semangat untuk mempersembahkan secara bertanggungjawab. Namun di sisi lain, juga sedikit merisaukan, mengapa? Karena sudah begitu lama kita hidup sebagai orang percaya, tetapi mengapa sesuatu yang seharusnya sudah menjadi bagian atau bahkan identitas setiap orang percaya, ternyata masih menjadi pertanyaan. Apakah hal ini disebabkan karena Alkitab kurang jelas memberikan gambaran tentang persembahan? Ataukah karena tidak ada ajaran secara resmi dan baku dari Greja Kristen Jawi Wetan tentang persembahan? Ataukah gereja tidak cukup sering memberi pemahaman tentang persembahan? Atau bingung karena ada bermacam-macam persembahan persembahan perpuluhan, persembahan bulanan, persembahan kemandirian, dll? Bagaimana pun pertanyaan di atas harus dijawab. Untuk menjawab pertanyaan di atas, berikut ini akan disampaikan terlebih dahulu beberapa kesaksian atau ungkapan, dan hasil percakapan yang berhubungan dengan persembahan dari beberapa orang yang sempat saya catat. Seorang ibu menerima wesel dari anaknya yang telah berkeluarga. Keadaan keluarga anaknya secara ekonomi termasuk sederhana. Di kertas wesel di kolom berita tertulis sbb. Sekian rupiah tolong dimasukkan ke kantong kolekte gereja keluarga ini memiliki kenangan manis saat sekolah minggu; sekian rupiah tolong diberikan kepada penarik gerobak sampah; sekian ribu rupiah tolong diberikan kepada pembantu rumah. Sang ibu sangat terharu menerima wesel itu, karena anaknya -sekalipun hidupnya sederhana- namun masih mau mengingat orang lain. GKJW Jemaat Surabaya, tahun 1985 Pada petang hari seorang janda yang hidupnya sederhana menemui Pak Pendeta. Dia bercerita “Pak, saya baru saja menjual rumah kecil saya seharga 25 juta rp. Anak saya sudah berkeluarga semua. Sebagian uang itu saya berikan kepada anak saya, dan ini 5 juta rp. saya serahkan untuk gereja” GKJW Jemaat Malang, 1999 Untuk membedakan apakah seseorang adalah warga jemaat yang sungguh-sungguh mempraktekkan cara hidup bersyukur atau tidak, itu sederhana saja. Lihatlah bagaimana ia menyusun prioritas pengeluaran atas gaji atau penghasilannya. Orang percaya yang baik akan menempatkan persembahan sebagai urutan pertama bukan soal; jumlahnya, tetapi prinsip sikap bahwa pengeluaran pertama yang segera harus disisihkan adalah persembahan persembahan bulanan, Minggu, dll, baru pengeluaran lainnya. Prinsip ini adalah tanda pengakuan bahwa tanpa berkat Tuhan kita tidak bisa apa-apa. GKJW Jemaat Malang, 2002. Seorang warga jemaat menemui kasir di kantor gereja untuk menyerahkan persembahan. Dia sodorkan seratus ribu rupiah, kepada kasir, namun sesaat kemudian ia menarik kembali uang seratus ribu itu, dan diganti dengan uang lima puluh ribu, sambil mengatakan “ah, kebanyakan.” Padahal Ybs. secara ekonomi termasuk kategori berkecukupan. GKJW Jemaat Malang, 2002 Jemaat ingin membeli tanah untuk membangun gereja baru. Panitia hanya memiliki uang 5 juta. Lalu ada seseorang yang menawarkan se bidang tanah seharga 204 juta rupiah. Pemilik tanah memberi waktu kepada panitia kurang dari sebulan. Panitia bingung, mungkinkah tanah itu terbeli? Namun hanya selang beberapa hari setelah penawaran itu, seorang warga jemaat menemui pendeta. “Pak, jangan bilang siapa-siapa. Biarlah uang 204 juta rupiah itu saya yang melunasinya. Saya sudah membicarakan dengan istri dan anak saya, dan mereka semua setuju!” GKJW Jemaat Malang 2002 Seorang Bapak mengatakan kepada Pendeta “Saya sangat bersyukur dan terharu ketika anak saya menyerahkan gaji pertamanya ke gereja..” GKJW Jemaat Malang, 2000 Seorang gadis akan memasuki usia ke 17. Orang tuanya bertanya “Kamu mau hadiah apa?” Si gadis menjawab “Minta dibelikan organ”. “Lho, kita, kan, sudah punya organ!” sahut orang tua si gadis. “Organ itu bukan untuk kita, tetapi akan kita serahkan ke satu jemaat kecil. Sebab sewaktu saya berkunjung ke sana, jemaat itu tidak memiliki organ” kata si gadis. GKJW Jemaat Jombang, 1989 Mbah Kahar -seorang kakek warga GKJW Jemaat Sukolilo- setiap bulan mendapatkan bantuan uang dari gerja untuk meringankan beban hidupnya sehari-hari. Pada bulan april yang lalu 2004 ia dipanggil Tuhan. Hal yang membuat semua warga jemaat terharu adalah ia membuat “wasiat” yang isinya adalah pesan agar sebuah amplop yang isinya Rp sepuluh ribu rupiah agar diserahkan ke gereja untuk persembahan. Ditengah kemiskinan, ia memiliki jiwa mempersembahkan yang luar biasa. Ia mempersembahkan jauh lebih besar daripada sepersepuluh persepuluhan dari yang ia miliki. Informasi dari Pdt. Suko Tiyarno, MTh. GKJW Jemaat Sukolilo, 2004. Dari contoh-contoh di atas menjadi amat jelas bagi kita, betapa beraneka ragamnya cara kita menghayati dan mewujudkan makna persembahan. Kita bisa menggumuli di antara kejadian-kejadian di atas, mana yang kiranya lebih berkenan di hadapan Tuhan, dan mana yang tidak. Sekarang di bawah ini akan disampaikan kesaksian Alkitab tentang persembahan. Persembahan di Perjanjian Lama Kita mulai dari kitab Kejadian 4. Di sini kita berjumpa dengan persembahan oleh Kain dan Habil. Tidak disebutkan persyaratan persembahan. Mereka hanya mempersembahkan sebagian dari harta yang mereka miliki. Kita tidak tahu mengapa persembahan Kain ditolak, sementara persembahan Habil diterima. Kita berhadapan dengan “hak prerogatif/ istimewa” Allah dalam menilai persembahan. Artinya, siapa pun bisa saja mengklaim telah mempraktekkan pemberian persembahan secara benar, tetapi pada hakekatnya penilai sejati hanya Tuhan. Kain bisa saja merasa telah memberikan yang terbaik untuk Tuhan, tetapi di depan Tuhan apa yang dianggap terbaik bagi manusia bisa berarti belum apa-apa di hadapan Tuhan. Persembahan agaknya tidak hanya ditujukan kepada Tuhan, tetapi juga kepada sesama manusia dalam hal ini atasn, raja. Perhatikan dua kutipan dari Kejadian 4311-15 dan Yehezkiel 45 16. Perjanjian Lama juga menyampaikan informasi tentang adanya persembahan khusus dari setiap orang yang tergerak hatinya untuk membantu terpenuhinya kebutuhan bagi rumah Tuhan, jadi bukan merupakan kewajiban bagi setiap orang. Fakta ini menyiratkan bahwa di jemaat selalu saja ada sebagian warga jemaat yang memiliki kepekaan yang amat tinggi untuk menyisihkan sebagian dari hartanya untuk keperluan gereja. Perhatikan isi kitab Keluaran 3521 di bawah ini. “Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu.” Persembahan pendamaian yaitu persembahan yang diserahkan oleh umat Tuhan pada jaman dahulu untuk “menebus” pelanggaran yang mereka lakukan dalam hidup. Dengan menyerahkan persembahan pendamaian, maka hidup mereka kembali disucikan. Perhatikan, misalnya Keluaran 30 20-dst Ada pula persembahan yang hanya boleh digunakan oleh orang tertentu keluarga Imam, orang lain tidak boleh. Perhatikan Imamat 22 10-12 “10 Setiap orang awam janganlah memakan persembahan kudus; demikian juga pendatang yang tinggal pada imam ataupun orang Tetapi apabila seseorang telah dibeli oleh imam dengan uangnya menjadi budak beliannya, maka orang itu boleh turut memakannya, demikian juga mereka yang lahir di Apabila anak perempuan imam bersuamikan orang awam, janganlah ia makan persembahan khusus dari persembahan-persembahan kudus.” Menyerahkan beberapa persembahan sekaligus, yaitu persembahan persepuluhan,persembahan khusus, dan persembahan korban bakaran. Perhatikan Keluaran 12 11 “…maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN. Menyerahkan persembahan persepuluhan Maleakhi 3 10 “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Tentang persembahan persepuluhan ini dalam prakteknya ternyata tidak sederhana, karena bukan sekedar sepersepuluh dari penghasilan. Kita perhatikan misalnya pada kitab Imamat 27 30 “Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN. 31 Tetapi jikalau seseorang mau menebus juga sebagian dari persembahan persepuluhannya itu, maka ia harus menambah seperlima. 32 Mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau kambing domba, maka dari segala yang lewat dari bawah tongkat gembala waktu dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi Tuhan”Dalam tradisi umat Israel Perjanjian Lama persembahan persepuluhan ini diberikan kepada kaum Lewi. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki mata pencaharian lain selain bekerja di bait Allah, di samping itu mereka tidak mendapatkan harta warisan. Perhatikan kitab Bilangan 1821 “Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan.” Sebaliknya, kaum Lewi juga mempunyai kewajiban menyerahkan sepersepuluh dari persembahan persepuluhan yang mereka terima. Catatan Sebenarnya di Perjanjian Lama masih terdapat banyak lagi aturan tentang persembahan atau korban, tetapi untuk kali ini, contoh-contoh di atas dipandang cukup untuk memberi gambaran betapa perihal persembahan di Perjanjian Lama tidak sederhana. Persembahan di Perjanjian Baru Persembahan sebagai simbol rasa hormat dan kerinduan untuk memuliakan Tuhan. Perhatikan Injil Matius 211 “Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” Di ayat ini tidak disebutkan satuan dari barang yang dipersembahkan. Artinya, kita tidak tahu jumlah yang mereka persembahkan Apakah sepersepuluh dari yang mereka miliki atau…? Kita hanya bisa menduga bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik yang mereka miliki untuk Tuhannya. Tuhan Yesus agaknya tidak mengutamakan persembahan dalam arti uang atau benda, tetapi yang jauh lebih penting adalah kesediaan seseorang untuk bertobat. Perhatikan Injil Matius 913 “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Bukan jumlah atau banyak-sedikitnya persembahan yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus, melainkan bobot pengorbanan yang mendasari persembahan yang diberikan. Pemahaman ini bisa kita baca di Injil Markus 12 41 “Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. 43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Secara jumlah pasti amat sedikit yang diberikan oleh janda itu, tetapi secara prosentase dibandingkan dengan harta yang dimiliki, nilainya bisa lebih dari 100% “..ia memberi dari kekurangannya…”. Sebaliknya persembahan dari orang kaya, secara jumlah pasti lebih besar, tetapi secara prosentase dari harta milik mereka, pastilah tidak lebih dari 1/10 “…mereka memberi dari kelimpahannya….”. Janda miskin memberi persembahan dengan bobot pengorbanan yang amat besar, sementara orang kaya memberi persembahan dengan ringan saja -tanpa beban dan pengorbanan– karena memang hanya diambilkan sebagian kecil sangat kecil? dari harta miliknya. Rasul Paulus sebagai salah satu tokoh Alkitab menghayati persembahan bukan hanya uang atau benda, tetapi seluruh hidup. Perhatikan Roma 121 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah itu adalah ibadahmu yang sejati.” Istilah “tubuh = seluruh hidup” artinya menghayati dan mempraktekkan hidup untuk memusatkan perhatian kepada orang lain, bukan lagi untuk dirinya sendiri. Bandingkan dengan Injil Yohanes 21 18 “…tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Bandingkan juga dengan cerita tentang anak muda yang kaya. Ia sudah menjalankan semua ajaran di Perjanjian Lama tentunya termasuk persembahan persepuluhan dan jenis-jenis persembahan lainnya, tetapi di depan Yesus anak muda itu dianggap belum melakukan sesuatu yang berarti Matius 1921″ Kata Yesus kepadanya “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.“ Dan, ternyata, pemuda tadi masih lebih terikat pada hartanya daripada terikat pada Kristus. Perhatikan 2 Timotius 46 “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.” Pada usia lanjut Rasul Paulus menenggok ke belakang, bagaimana ia telah mencurahkan segala yang ia miliki -jasmani dan rohani- untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Kata “darah” di dalam kalimat di atas adalah juga melambangkan berbagai penderitaan dan kesusahan yang pernah dialaminya sebagai pemberita injil, dan itu dihayati sebagai bagian dari persembahan yang diberikan Paulus kepada Tuhan. Perhatikan Ibrani 108 “Di atas Ia berkata “Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya” meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat.” Pada ayat ini kita mendapat gambaran tentang pemahaman yang baru tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sementara di Perjanjian Lama hubungan itu antara lain ditandai dengan persembahan sebagai simbol kesetiaan dan kepatuhan umat terhadap Tuhannya, sedangkan di dalam Perjanjian Baru hubungan antara manusia dengan Tuhan ditandai dengan pemberian anugerah keselamatan dari Yesus Kristus. Di Perjanjian Baru kesetiaan dan kepatuhan orang percaya kepada Tuhan-nya tidak lagi ditandai oleh besar kecilnya persembahan, tetapi oleh cara hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerajaan Allah, yaitu kasih, keadilan, kebenaran, suka cita, damai sejahtera. Perhatikan beberapa kutipan di bawah ini. Perhatikan Matius 2323 “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Perhatikan Lukas 1142 “Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Perhatikan 1 Petrus 25 “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Ayat ini ingin menegaskan tentang makna iman Kristen yang sudah mengalami pembaharuan karena pengorbanan Kristus. Hal yang terpenting bukan lagi memberi persembahan yang berupa benda, karena persembahan berupa benda tidak lagi menentukan keselamatan seseorang. Persembahan rohani jauh lebih berharga, yaitu hati bersih yang menerangi setiap tutur kata dan perbuatan kita setiap saat. Lalu Bagaimana? Baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memberikan informasi yang amat beragam tentang persembahan. Tentulah tidak bijak kalau kita hanya mau menekankan atau mengambil satu jenis persembahan yang terdapat di Perjanjian Lama, dan mengesampingkan macam-macam persembahan lainnya. Oleh karena itu menjadi semakin jelas bagi kita bahwa saat ini, untuk memahami persembahan, tidak bisa lagi diambil secara hurufiah baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Sebab kalau kita mengambil begitu saja makna persembahan/ persembahan korban dari Alkitab, pastilah akan kita temui berbagai kesulitan. Sebab aturan tentang persembahan di Perjanjian Lama amat rumit. Contoh kerumitannya, misalnya, bagaimana kita memahami aturan di Perjanjian Lama “memberi persembahan terbaik buat Tuhan?” Ternyata yang dimaksud adalah, kalau persembahan berupa korban binatang, maka kata “..terbaik..” itu artinya jantan lebih diutamakan Imamat 13; berumur 3 tahun I Samuel 1 24; fisiknya sempurna Imamat 31, warna merah Bilangan 19 2. Satu contoh lagi, dapatkah kita menerapkan begitu saja isi Injil Matius 1010 ini “Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.” Apakah aturan semacam ini akan kita ambil dan terapkan begitu saja untuk konteks saat ini, tentu tidak bukan? Masih ada banyak lagi bagian dari Alkitab yang tidak bisa diterapkan secara langsung untuk kehidupan saat ini, harus dirumuskan terlebih dahulu. Demikian pula halnya dengan persembahan kita tidak bisa menyatakan bahwa persembahan yang satu lebih utama daripada jenis persembahan lainnya. Kalau kita mau menekankan secara hurufiah satu jenis persembahan misalnya persepuluhan, maka kita tidak bisa membuang begitu saja aturan persembahan lainnya yang tertulis di Alkitab. Sebab di sini muncul persoalan Siapa yang bisa memastikan bahwa persembahan yang kita prioritaskan itu sungguh-sungguh lebih berkenan di hadapan Tuhan? Oleh karena itu kita perlu belajar untuk rendah hati dan mau menyadari keterbatasan pemahaman kita atas isi Alkitab. Konsep persembahan di Perjanjian Lama antara lain adalah sebagai sarana pembinaan umat dan sebagai tanda kesetiaan dan kepatuhan umat terhadap Tuhan. Bagi umat Israel di jaman Perjanjian Lama, hukum itu memang mutlak. Kesetiaan dan kepatuhan umat Israel Perjanjian Lama terhadap aturan persembahan itu mengikat sekali. Artinya, ketidaksetiaan dan ketidakpatuhan mereka terhadap aturan itu akan membawa mereka kepada kebinasaan Perhatikan kitab Amos 5 7 dst.. Sedangkan konsep persembahan di Perjanjian Baru berbeda. Persembahan tidak menentukan keselamatan, tetapi sebagai salah satu buah ucapan syukur. Barangkali ilustrasi berikut ini bisa sedikit membantu. Hubungan antara Allah dengan umat Israel di Perjanjian Lama ibarat orang tua Tuhan dengan anak kecil umat Israel. Orang tua bisa membuat aturan yang tegas untuk anaknya yang masih kecil Pulang sekolah cuci tangan, ganti baju, makan siang lalu istirahat; pukul mandi; pukul 17-30 nonton TV atau bermain; dst. Tidak patuh terhadap aturan itu dihukum! Aturan semacam itu amat diperlukan untuk pembinaan, latihan disiplin dan persiapan masa depan. Perjanjian Baru tidak lagi seperti itu, Tuhan telah menempatkan manusia pada posisi orang dewasa, seseorang yang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri Yohanes 3 16. Tentulah tidak wajar kalau kepada anak yang sudah mahasiswa, orang tua tetap memberlakukan aturan Pukul harus mandi, pukul nonton TV, pukul belajar, dst. Bukankah orang tua cukup mengatakan “Kamu sudah besar/dewasa Belajarlah baik-baik!” Seorang anak yang sudah dewasa sudah bisa menangkap makna perintah sederhana itu. Sedangkan dalam prakteknya anak yang dewasa itu bisa saja menata sendiri irama hidupnya dengan mengikuti aturan yang berlaku saat ia masih kecil. Bedanya adalah, ketika masih kanak-kanak ia setia dan patuh kepada aturan karena takut hukuman, sedangkan ketika dewasa ia melaksanakan peraturan itu dengan kesadarannya sendiri, dengan rasa syukur, bukan karena takut hukuman. Demikian pula halnya dengan pemahaman tentang persembahan. Kesimpulan Setelah kita amati perihal persembahan baik di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru, maka kita menyimpulkan tentang persembahan sbb. Persembahan yang kita lakukan saat ini bukan lagi sebagai “korban” baik untuk penebusan dosa atau sebagai “alat” untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Tuhan Yesus dengan karya penebusanNya telah memperbaharui secara mendasar makna persembahan. Jangankan sepersepuluh, mempersembahkan sepertiga atau setengah dari yang kita miliki pun tidak akan cukup untuk mensyukuri kebaikan Tuhan. Oleh karena itu Tuhan Yesus tidak pernah menyinggung soal jumlah dalam hal persembahan. Persembahan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita. Hal yang paling utama dalam persembahan adalah hati yang bersyukur. Persembahan juga sebagai wujud nyata pengakuan kita bahwa tanpa berkat Tuhan kita tidak bisa apa-apa. Persembahan sebagai wujud nyata kesediaan kita untuk turut menopang pekerjaan Tuhan di dunia ini. Persembahan sebagai wujud nyata kesediaan kita untuk tidak membiarkan uang dan harta benda menguasai hidup kita, dengan cara mau mengurangi uang atau harta benda yang ada pada diri kita untuk kebutuhan pelayanan. Catatan Dengan pemahaman di atas bukan berarti kita bisa seenaknya memberikan persembahan. Kalau kita sudah dewasa pastilah akan secara dewasa pula memahami hal-hal di atas. Artinya, besar kecilnya persembahan tentulah sesuai dengan keadaan masing-masing bisa menjadi salah satu tanda kedewasaan iman seseorang. Langkah Praktis Secara teknis persembahan bisa kita wujudkan berupa persembahan rutin dan persembahan khusus. Persembahan rutin Persembahan yang secara ajeg kita siapkan, misalnya Persembahan bulanan, atau kalau mau memakai istilah persepuluhan Maleakhi 3 atau seperlima Imamat 6 juga tidak masalah. Catatan Persembahan persepuluhan atau seperlima disebut di atas semata-mata hanya sebagai salah satu pilihan cara kita mendisiplin diri dalam bersyukur kepada Tuhan. Sebab, kita tidak lagi menerapkan persepuluhan seperti di Perjanjian Lama, sebab kalau diterapkan persis seperti di Perjanjian Lama akan berbenturan dengan aturan gereja GKJW. Karena di Perjanjian Lama persembahan persepuluhan diberikan kepada kaum Lewi untuk jaman sekarang -kira-kira- mirip pendeta. Padahal di GKJW persembahan apa pun dipakai untuk berbagai macam kebutuhan gereja. Persembahan untuk ibadat-ibadat Minggu, Hari Raya Persembahan, Ibadat Rumah tangga, dlsb. Persembahan khusus Persembahan yang kita serahkan ke gereja ketika mengalami saat-saat istimewa dalam kehidupan kita. Tentang persembahan khusus ini, saya menyampaikan jenis-jenis persembahan syukur yang pernah dilaksanakan oleh warga GKJW di berbagai jemaat, yakni, Sembuh dari sakit; ulang tahun; naik pangkat/ karier; naik kelas/ lulus ujian; menempati rumah baru; ulang tahun perkawinan; memenangkan tender; membuka usaha baru; dikaruniai putra/i; diterima kerja; memasuki masa pensiun; berhasil menjual rumah/ tanah. Ketika kita memberikan persembahan apa pun dan berapa pun, haruslah dijauhkan dari “harapan tersembunyi” agar Tuhan memberikan kembali berlipatganda dari yang telah kita persembahkan. Kalau disertai “harapan tersembunyi” seperti itu berarti persembahan kita tidak lagi tulus. Bukankah hal itu justru pertanda bahwa semangat mempersembahkan kita adalah semangat materialistis, semangat keserakahan, bukan semangat ucapan syukur? Tentulah hal itu justru bertentangan dengan kehendak Tuhan, bukan? Bagi orang percaya yang dewasa, suka cita hidup dan berkat Tuhan tidak ditentukan oleh harta dan uang. Bandingkan dengan penghayatan Ayub Ayub 2 10. Oleh karena itu semangat mempersembahkan adalah semangat untuk semakin mengasihi Tuhan lebih dari hari-hari yang telah lewat. Adalah tugas kita semua untuk terus belajar agar semakin dimampukan untuk semakin dewasa iman. Sebab pertumbuhan gereja yang benar tidak ditentukan oleh uang, tetapi oleh iman warga jemaat yang semakin dewasa. Tentulah juga dipahami bahwa disamping uang, banyak di antara kita yang juga memberikan persembahan yang luar biasa nilainya, Tenaga, waktu, keahlian, dlsb. “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. -Lukas 6 43 — Foto By GFreihalter – Own work, CC BY-SA Tags Persembahan, Teologi Bagikan Entri Ini
Pertanyaan Jawaban Ada lima jenis kurban, atau persembahan, dalam Perjanjian Lama. Persembahan bakaran Imamat 1; 68–13; 818-21; 1624, persembahan sajian Imamat 2; 614-23, persembahan keselamatan Imamat 3; 711-34, persembahan penghapus dosa Imamat 4; 51–13; 624–30; 814–17; 163–22, dan persembahan penebus kesalahan Imamat 514-19; 61-7; 71-6. Tiap persembahan ini melibatkan unsur khusus, baik dari hewan atau hasil ladang, dan memiliki tujuan tersendiri. Sebagian besar kurban dibagi menjadi dua atau tiga – porsi milik Allah, porsi bagi para imam atau kaum Lewi, dan, jika ada yang ketiga, porsi yang diberikan pada orang yang mempersembahkan kurban. Secara garis besar persembahan kurban dapat dipisah menjadi persembahan yang sifatnya sukarela dan persembahan yang sifatnya wajib. Persembahan Kurban Sukarela Ada tiga jenis persembahan sukarela. Yang pertama ialah persembahan bakaran, yakni persembahan sukarela yang mengungkapkan pengabdian atau komitmen pada Allah. Persembahan ini juga digunakan bagi pendamaian atas dosa yang tidak disengaja. Unsur persembahan kurban bakaran ialah lembu jantan, domba jantan, atau burung tekukur/anak burung merpati tanpa cela. Tulang, daging, dan seisi perut dan betisnya harus dibakar sepenuhnya; itulah porsi Allah. Kulit dari binatang itu diberikan pada kaum Lewi, yang kemudian dapat menjualnya untuk memperoleh nafkah. Persembahan sukarela kedua adalah persembahan kurban sajian, yakni hasil dari ladang yang dipersembahkan dalam bentuk roti atau balok olahan yang terbuat dari gandum, tepung terbaik, minyak, dan garam. Persembahan sajian disertai oleh persembahan minum seperempat takaran hin sekitar liter anggur, yang dicurahkan pada api di atas mezbah Bilangan 154-5. Tujuan persembahan sajian adalah mengungkapan syukur kepada Allah atas pemeliharaan-Nya dan rahmat-Nya kepada sang pemberi persembahan. Para imam diberi bagian dari persembahan ini, namun harus dikonsumsi di dalam tabernakel. Persembahan sukarela ketiga adalah persembahan keselamatan, yang isinya antara lain adalah hewan yang tak bercacat dari ternak yang digembala, dan/atau berbagai jenis hasil ladang atau roti. Persembahan ini adalah persembahan syukur dan persekutuan yang diikuti oleh acara makan bersama. Imam besar diberi bagian dada hewan tersebut; imam diberi bagian kaki depan. Potongan ini disebut sebagai "persembahan unjukan" dan "persembahan khusus" karena diangkat atau diunjuk di atas mezbah dalam upacara tersebut. Lemak, ginjal, dan lobus hati dipersembahkan kepada Allah dibakar, dan sisa binatang itu dikonsumsi oleh peserta upacara itu, simbolik akan pemeliharaan Allah. Persembahan kurban nazar, kurban syukur, dan pemberian sukarela dalam Perjanjian Lama merupakan persembahan sukarela. Persembahan Wajib Ada dua persembahan kurban yang wajib dalam Hukum Perjanjian Lama. Yang pertama adalah persembahan atas dosa. Tujuan dari persembahan tersebut adalah mengadakan perdamaian atas dosa dan mentahirkan diri dari kenajisan. Persembahan tersebut dapat dipilih antara lima unsur – seekor lembu jantan muda, seekor kambing jantan, seekor kambing betina, seekor merpati, atau 1/10 efa atau sekitar liter tepung gandum terbaik. Jenis binatang yang dikurbankan tergantung pada kedudukan dan keadaan ekonomi sang pemberi. Bagi orang biasa, seekor kambing betina; bagi orang sangat miskin, tepung gandum; seekor lembu jantan muda bagi imam besar dan peserta kebaktian, dan sebagainya. Pengurbanan ini dilaksanakan menurut perintah khusus dalam halnya perlakuan darah binatang tersebut. Bagian berlemaknya, serta lobus hati dipersembahkan kepada Allah dibakar, dan sisa binatang itu dibakar di atas mezbah dan abunya dibuang di luar pemukiman jika mendamaikan dosa imam besar dan peserta kebaktian, atau dimakan di area tabernakel. Persembahan wajib lainnya adalah persembahan penebus kesalahan yang tidak disengaja, dan hewan yang dikuburkan haruslah seekor domba jantan. Persembahan tersebut diberikan sebagai pendamai dosa yang tak disengaja yang menyaratkan ganti rugi bagi pihak yang dirugikan, dan juga sebagai pembersih dari dosa yang menajiskan maupun penyakit fisik. Sekali lagi, bagian berlemak, ginjal, maupun hati dipersembahkan kepada Allah, dan bagian yang tersisa dari domba jantan tersebut harus dikonsumsi dalam pelataran tabernakel. Berbagai persembahan kurban dalam Perjanjian Lama semuanya menunjuk kepada pengurbanan sempurna Kristus yang final. Sebagaimana halnya dengan Hukum, persembahan kurban merupakan "bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus" Kolose 217. Umat Kristen pada zaman ini menyadari bahwa kematian Kristus, yang mendamaikan sekali untuk selamanya, merupakan satu-satunya kurban atas dosa yang dibutuhkan Ibrani 101-18. Kematian-Nya telah memberi kita akses pada "Tempat Kudus" Ibrani 1019-22 sehingga dengan bebas kita dapat memasuki hadirat Allah dan mempersembahkan "korban syukur" kita Ibrani 1315; baca 911-28; 414 — 510. English Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia Apa saja jenis persembahan kurban dalam Perjanjian Lama?
Ambillah bagi TUHAN persembahan khusus dari barang kepunyaanmu; setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN. Keluaran 355aKata 'persembahan' dan 'sumbangan', sepintas memiliki makna yang sama. Namun sesungguhnya kedua kata ini menekankan hal yang berbeda. Dalam KBBI, kata 'sumbangan' berarti pemberian sebagai bantuan, biasanya digunakan pada pesta perkawinan dan sebagainya. Sedangkan kata 'persembahan' memiliki arti hadiah atau pemberian kepada orang yang terhormat. Sama-sama memberi, namun memiliki penekanan yang berbeda. Sumbangan memfokuskan pada materi sebagai wujud pemberian sedangkan persembahan berfokus pada sikap hati ketika memberikan sesuatu kepada sosok yang ia hormati. Umat Israel mengumpulkan sebagian barang-barang yang mereka miliki untuk digunakan dalam membangun Kemah Suci dan untuk pelaksanaan kegiatan. Ada yang membawa emas, perak, tembaga, kain, bebatuan, ternak, rempah-rempah, minyak, dll baca Kel. 355-19. Musa menyebut semua itu dengan 'persembahan khusus bagi Tuhan'. Syarat utamanya adalah sikap hati yang rela dan tanpa paksaan. Apa yang kita berikan kepada Tuhan melalui gereja untuk digunakan bagi berbagai macam kegiatan gereja, apapun wujudnya, adalah persembahan bagi Tuhan. Sikap hati yang dipenuhi hormat, syukur dan rela harus menyertai persembahan yang kita bawa bagi Tuhan melalui gereja-Nya. Jadi, jangan pernah lagi sebut pemberian itu sebagai sumbangan. Sebab itu sama halnya merendahkan Tuhan yang Mahakaya. Tuhan tidak perlu sumbangan kita. IA hanya rindu rasa hormat dan syukur kita kepada-Nya. Selamat mempersembahkan. ^-^KategoriVitamin Jiwa 660 postinganRenungan Pewarta 122 postinganBina Warga 125 postinganKirbat 118 postinganPewarta 235 postinganJadwal 1 postinganRecent Posts Archive Maret 2021 29 postinganFebruari 2021 36 postinganJanuari 2021 41 postinganDesember 2020 38 postinganNovember 2020 37 postinganOktober 2020 42 postinganSeptember 2020 37 postinganAgustus 2020 39 postinganJuli 2020 12 postinganJuni 2020 9 postinganMei 2020 8 postinganApril 2020 37 postinganMaret 2020 25 postinganFebruari 2020 37 postinganJanuari 2020 33 postinganDesember 2019 36 postinganNovember 2019 36 postinganOktober 2019 36 postinganSeptember 2019 37 postinganAgustus 2019 41 postinganJuli 2019 39 postinganJuni 2019 38 postinganMei 2019 38 postinganApril 2019 37 postinganMaret 2019 37 postinganFebruari 2019 36 postinganJanuari 2019 39 postinganDesember 2018 40 postinganNovember 2018 39 postinganOktober 2018 12 postinganJuli 2017 1 postinganJuni 2017 26 postinganMei 2017 8 postinganJanuari 2017 1 postinganDesember 2016 2 postingan
Claudia Jessica Official Writer Persembahan merupakan wujud ucapan syukur dan sukacita umat Allah atas kasih, anugerah dan berkat yang telah Allah berikan. Hal ini menunjukkan bahwa umat tidak melupakan Tuhan sebagai pemberi berkat. Lalu seperti apa penggambaran Alkitab mengenai persembahan? Siapakah tokoh Alkitab pertama yang terlibat dalam pemberian persembahan? Bagaimana cara orang percaya modern memberikan persembahan? Persembahan Pertama Kejadian 43-4 merupakan peristiwa pertama dalam Alkitab yang menceritakan perihal persembahan. “Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan; Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu,”. Kain dan Habel ada tokoh Alkitab pertama yang menunjukan bagaimana cara manusia memberikan persembahan kepada Allah. Selain mereka, Kitab Kejadian juga memberikan contoh tokoh-tokoh lainnya yang memberikan persembahan kepada Tuhan, seperti Nuh Kej. 820-21, Abraham Kej. 183-8, dan Yakub Kej. 3153-54. Para patriark ini memberikan persembahan dengan inisiatif pribadi, serta menunjukan cerminan hubungan pribadi mereka dengan Allah. Namun perlu diketahui bahwa persembahan yang dilakukan oleh Kain dan Habel, Nuh, Abraham, dan Yakub, adalah persembahan yang terjadi di masa sebelum berdirinya Kemah Suci. Aturan Persembahan dalam Kemah Suci Setelah bangsa Israel keluar dari Mesir, Musa diperintahkan Tuhan untuk membangun Kemah Suci, yakni kemah pertemuan di mana Tuhan akan berjumpa dengan umat-Nya. Adanya kemah suci membuat Tuhan memberikan aturan atau hukum yang berlaku dalam tata cara beribadah, baik aturan sebagai imam besar, para imam, hukum aturan moral, hukum aturan sosial, maupun tata cara persembahan, Kitab Imamat merupakan bagian khusus dalam Alkitab yang menetapkan hukum atau aturan yang harus dilakukan oleh umat Tuhan pada waktu itu, dalam memberikan persembahan. Setiap hal yang akan dilakukan terkait persembahan sudah diatur sedemikian rupa, sehingga seseorang yang akan memberikan korban persembahan tidak semata memberikan kepada Tuhan, namun harus sejalan dengan aturan atau ketetapan yang ada dalam kitab imamat. Hal ini menunjukan bahwa betapa pentingnya korban atau persembahan di dalam perjanjian lama. Berbagai Jenis Persembahan Kitab Imamat menyampaikan beberapa jenis persembahan. Persembahan yang dimaksud adalah persembahan korban, seperti - Korban Sajian Imamat 21 Korban sajian ini dipersembahkan setelah seseorang mendapat penghasilan. Hanya ada dua macam mata pencaharian di zaman itu, yaitu pertanian dan peternakan. Sepersepuluh dari mata pencaharian itu dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan. Persembahan ini sebagai tanda ucapan syukur dan menyatakan bahwa hidup manusia adalah anugerah Tuhan. - Kedua, Korban Penebus Salah Imamat 4 13-14 Jenis korban ini diberikan ketika manusia melakukan dosa tanpa sengaja atau lalai. Misalnya, ingkar memenuhi janji atau menabrak binatang piaraan orang lain hingga mati. Kitab Imamat mengajarkan bahwa orang yang lalai harus mengganti kerugian dan mempersembahkan korban di bait Allah. - Korban Penghapus Dosa Imamat 41-4 Persembahan ini sebagai wujud kesadaran dan pengakuan manusia akan dosa di masa lalu. Tata cara dalam korban ini yaitu dengan menyembelih lembu jantan muda lalu dibakar di atas mezbah, yang dipersembahkan hanya bagian-bagian yang dianggap paling harum. Sedangkan seluruh bagian lain harus dibakar di luar kemah pertemuan karena kemah pertemuan tidak boleh tercemar. - Korban Bakaran Imamat 6 12-13 Korban bakaran dipersembahkan sebagai pernyataan syukur atas perdamaian manusia dengan Allah dengan membawa ternak terbaik dan disembelih serta di bakar di atas mezbah. - Korban Keselamatan Kejadian 31 54 Korban keselamatan ini berupa ternak yang di bawa ke hadapan Tuhan tiap kali berkunjung ke bait-Nya. Sang pemilik harus meletakkan tangan di atas kepala binatang korban sebagai lambang keselamatan yang dianugerahkan Tuhan baginya sehingga tidak binasa dalam dosa. BACA HALAMAN SELANJUTNYA ->Persembahan di Gereja Ada perbedaan dalam memberikan persembahan kepada Tuhan antara zaman Perjanjian Lama dan sekarang. Jika zaman Perjanjian Lama manusia memberikan korban bakaran kepada Tuhan melalui Imam yang ditunjuk Allah dengan hukum yang telah diatur, maka dalam dunia modern hal itu tidak berlaku lagi di kalangan orang percaya. Persembahan yang dulunya hanya boleh dilakukan oleh imam, sekarang sudah boleh dilakukan oleh semua orang. Meskipun zaman Perjanjian Lama dan sekarang berbeda masa, namun hal ini tidak dapat merusak kepercayaan seseorang kepada Tuhan, terutama dalam memberikan persembahan. Saat ini, memberikan persembahan sudah termasuk dalam tata cara beribadah dalam gereja. Ajaran dalam memberikan persembahan saat beribadah juga terdapat dalam Alkitab. “Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya!” Mazmur 968. Ada beberapa jenis persembahan yang dilakukan dalam beribadah di gereja - Yang pertama, Persembahan Umum. Persembahan ini diberikan secara rutin setiap mengikuti kegiatan ibadah Minggu di gereja. Persembahan ini biasanya diberikan dengan memasukkan uang ke dalam kantung kolekte. Belakangan ini, persembahan umum juga dapat diberikan melalui transfer atau menggunakan e-money. - Kedua ada Persembahan Khusus. Dasar ayat Firman Tuhan mengenai Persembahan Khusus terdapat dalam Keluaran 3521, yaitu “Sesudah itu datanglah setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu.” Persembahan khusus diberikan untuk mendukung tujuan tertentu. Misalnya, untuk pembangunan gereja di desa-desa, misi atau penginjilan, aksi sosial dan lain sebagainya. - Ketiga ada Persembahan Persepuluhan. Persepuluhan terdiri dari 10 persen penghasilan khusus mengenai persepuluhan JCers bisa menyaksikan dengan mengklik tombol bagian atas - rujukan FA Persepuluhan. Maleakhi 310 menjadi rujukan beberapa golongan gereja dalam memberikan persembahan persepuluhan. Pada umumnya persembahan persepuluhan diberikan sekali dalam sebulan. BACA HALAMAN SELANJUTNYA ->Persembahan harus diberikan dengan sukacita dan penuh kerelaan hati, sebagaimana yang disampaikan 2 Korintus 97, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih atau paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Mahal atau murahnya persembahan yang diberikan bukan menjadi tolak ukur diterimanya persembahan. Semua yang dipersembahkan kepada Allah merupakan hal yang baik dan berharga dimata Tuhan, jikalau itu didasari dengan ketulusan dan keikhlasan dari hati seseorang. Konsep persembahan yang ada dalam Perjanjian Lama maupun sekarang hanya berbeda dalam tata cara dan benda yang akan dipersembahkan kepada Tuhan, namun keduanya merupakan hal yang berkenan dihadapan Tuhan, dan diterima sebagai suatu hal yang dikuduskan Tuhan. Sumber jawaban channel Halaman Tampilkan per Halaman
Ucapan syukur atas apa yang diberikan Tuhan Yesus Kristus Persiapan jelang ibadah Natal, di Gereja Katedral, Jakarta, Rabu 23/12/2020. Gereja Katedral Jakarta akan menggelar misa malam Natal dan misa Natal 2020 dengan membatasi umat yang hadir untuk beribadah sebanyak 20 persen dari kapasitas gereja ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A Terdapat tiga jenis persembahan di agama Kristen, yang akan dibahas di sini. Setidaknya, ada tiga persembahan di agama Kristen. Ketiga persembahan ini diberikan sebagai ungkapan rasa syukur umat Kristen atas berkat yang diberikan oleh mengucap syukur dan melaksanakan doa, umat Kristen biasanya memberikan persembahan ketika beribadah di gereja. Persembahan ini tercantum di dalam ayat Alkitab, yaitu “Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya!” Mazmur 96 8. Persembahan dilakukan untuk mengakui segala sesuatu yang ada di dunia ini merupakan pemberian Tuhan Yesus Kristus. Untuk kamu yang ingin mengenal beberapa persembahan di agama Kristen, simak penjelasan berikut Persembahan kebaktianIlustrasi gereja. IDN Times/Reza Iqbal Jenis persembahan di agama Kristen yang pertama adalah persembahan kebaktian. Persembahan ini dilakukan secara rutin setiap ibadah Minggu di kebaktian dilakukan dengan memasukkan uang ke dalam kantung kolekte gereja. Persembahan ini dilakukan secara sukacita tanpa paksaan, seperti yang dijelaskan di dalam II Korintus 9 7, yaitu “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih atau paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” Baca Juga Perbedaan Hukum Nikah Kristen dan Islam 2. Persembahan persepuluhanPersiapan jelang ibadah Natal, di Gereja Katedral, Jakarta, Rabu 23/12/2020. Gereja Katedral Jakarta akan menggelar misa malam Natal dan misa Natal 2020 dengan membatasi umat yang hadir untuk beribadah sebanyak 20 persen dari kapasitas gereja ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak ASelanjutnya, terdapat persembahan persepuluhan di gereja yang memberikan 10 persen penghasilan dalam satu bulan. Ketentuan hukum tentang memberikan persepuluhan terdapat dalam di beberapa bagian Alkitab, yakni sebagai berikut “Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.” Kejadian 28 20–22. “Tetapi masing-masing dengan sekadar persembahan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu,” Ulangan 16 17. “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan,” Maleakhi 3 10. 3. Persembahan khususilustrasi gereja dengan persembahan persepuluhan, persembahan khusus dilakukan untuk mendukung tujuan tertentu, seperti penginjilan, aksi sosial, pembangunan gereja, dan tujuan penting lainnya. Ketentuan persembahan khusus ini terdapat di Keluaran 35 21, yaitu “Sesudah itu datanglah setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu.” Nah, itu dia jenis persembahan agama Kristen yang merupakan ucapan syukur atas apa yang diberikan Tuhan Yesus Kristus kepada umat manusia. Jangan lupa untuk selalu berdoa dan beribadah, ya! Baca Juga Perbedaan Hukum Nikah Kristen dan Islam Berita Terkini Lainnya
jenis persembahan diberikan kepada manfaat